Selasa, 11 Desember 2012

CERITA DIRI DAN CURHAT


         Cerita Diri & Curhat Intelek
     
      Sepertinya (ini cuma dugaan saja) curhat itu suatu kebutuhan (kalau tidak sekunder, berarti tersier atau seterusnya) pokok buat diri kita. Apa ada orang yang tidak pernah curhat seumur hidupnya ? Kalau ada, gw cuma mau bilang kalau dia bukan manusia ;) kenapa?simpel, gampang, mudah, ringan, easy, dan kawan kawannya. Manusia pasti punya masalah, dan kalau tidak punya masalah berarti manusia yang tinggal badan tanpa nyawa. Nah, karena manusia itu identik dengan masalah, maka salah satu cara menyelesaikan masalah adalah dengan menceritakannya pada orang lain.
    Gw sendiri juga bukan orang yang dengan mudah curhat sama orang lain. Banyak yang bilang kalau gw termasuk golongan orang yang introvert, tertutup, dan sangat sulit diketahui isi hatinya. Mungkin gara-gara) hades. Hades kan salah satu dewa Yunani Kuno yang identik dengan kemisteriusan, kegelapan, dan ketertutupan (selain kematian, tentunya)tapi ada juga teman-teman gw yang (berani-beraninya) bilang kalau gw itu kurang gaul. Sebenarnya nggak masalah kalau gw dibilang kurang gaul, dan memang itu ada benarnya juga. Gw lebih senang sendiri daripada berada di tempat ramai. Sementara orang lain bisa saja menderita Autophobia, gw cenderung untuk Agoraphobia. Tentunya dengan gejala yang sangat-amat ringan. :)
      Kalau gw punya masalah, gw sendiri biasanya cerita sama….. Diri Sendiri. Ini metode aneh yang sering gw praktekkan dan lumayan sukses. Gw cuma mempraktekkan dualisme manusia (sorry, filsafat lagi…) dalam alam semesta. Ini konsep siapa ya ? *sambil buka-buka buku* kata teori yang pernah gw tau, manusia itu adalah pengamat di alam semesta. Semua hal di alam semesta ini diamati dan dipelajari oleh manusia, termasuk dirinya sendiri. Sebagai pengamat manusia adalah subyek yang sedang melakukan sesuatu. Tetapi jika manusia mengamati dirinya sendiri, maka manusia sekaligus sebagai subyek yang mengamati dan juga obyek yang diamati.
   Dualitas subyek-obyek pengamat ini yang gw terapkan dalam diri gw. Diri gw yang bercerita (alias curhat) adalah obyek yang sedang mengungkapkan dirinya, sementara Diri gw yang menjadi curahan hati adalah subyek yang sedang mengamati. Dengan kata lain, dalam proses curhat sama diri sendiri, diri gw (atau kepribadian, atau apa saja namanya) terbelah dalam dua kutub pengamat-obyek. Semuanya berjalan simultan.
       Ribet ya ? Memang iya, karena gw suka yang ribet-ribet…. ;)Kalau bisa dibikin ribet ngapain dibikin mudah, iya nggak ? :lol:Tapi bukan berarti gw tidak punya sahabat atau orang yang bisa gw kasih kepercayaan untuk menjadi tempat sampah uneg-uneg gw. Itu pasti ada. Tapi masalahnya, terkadang gw suka memilah-milah (filter), kira-kira masalah apa yang pantas gw ceritain buat teman gw itu. Memang gw merasa kalau emotional attachment (apa bahasa Indonesia-nya yang pantas ?) gw dengan orang lain itu cenderung kurang dibandingkan dengan orang-orang “normal” lainnya.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar