Cerita Diri & Curhat Intelek
Sepertinya
(ini cuma dugaan saja) curhat itu suatu kebutuhan (kalau tidak sekunder,
berarti tersier atau seterusnya) pokok buat diri kita. Apa ada orang yang tidak
pernah curhat seumur hidupnya ? Kalau ada, gw cuma mau bilang kalau dia bukan
manusia
kenapa?simpel, gampang, mudah,
ringan, easy, dan kawan kawannya. Manusia pasti punya masalah, dan kalau
tidak punya masalah berarti manusia yang tinggal badan tanpa nyawa. Nah, karena
manusia itu identik dengan masalah, maka salah satu cara menyelesaikan masalah
adalah dengan menceritakannya pada orang lain.
Gw
sendiri juga bukan orang yang dengan mudah curhat sama orang lain. Banyak yang
bilang kalau gw termasuk golongan orang yang introvert,
tertutup, dan sangat sulit diketahui isi hatinya. Mungkin gara-gara) hades. Hades
kan salah satu dewa Yunani Kuno yang identik dengan kemisteriusan, kegelapan,
dan ketertutupan (selain kematian, tentunya)tapi
ada juga teman-teman gw yang (berani-beraninya) bilang kalau gw itu kurang
gaul. Sebenarnya nggak masalah kalau gw dibilang kurang gaul, dan memang itu
ada benarnya juga. Gw lebih senang sendiri daripada berada di tempat ramai.
Sementara orang lain bisa saja menderita Autophobia,
gw cenderung untuk Agoraphobia.
Tentunya dengan gejala yang sangat-amat ringan. 
Kalau
gw punya masalah, gw sendiri biasanya cerita sama….. Diri Sendiri. Ini metode aneh yang sering gw praktekkan dan
lumayan sukses. Gw cuma mempraktekkan dualisme manusia (sorry, filsafat lagi…)
dalam alam semesta. Ini konsep siapa ya ? *sambil buka-buka buku* kata
teori yang pernah gw tau, manusia itu adalah pengamat di alam semesta. Semua
hal di alam semesta ini diamati dan dipelajari oleh manusia, termasuk dirinya
sendiri. Sebagai pengamat manusia adalah subyek yang sedang melakukan sesuatu.
Tetapi jika manusia mengamati dirinya sendiri, maka manusia sekaligus sebagai
subyek yang mengamati dan juga obyek yang diamati.
Dualitas
subyek-obyek pengamat ini yang gw terapkan dalam diri gw. Diri gw yang
bercerita (alias curhat) adalah obyek yang sedang mengungkapkan dirinya,
sementara Diri gw yang menjadi curahan hati adalah subyek yang sedang
mengamati. Dengan kata lain, dalam proses curhat sama diri sendiri, diri gw
(atau kepribadian, atau apa saja namanya) terbelah dalam dua kutub
pengamat-obyek. Semuanya berjalan simultan.
Ribet
ya ? Memang iya, karena gw suka yang ribet-ribet….
Kalau bisa dibikin
ribet ngapain dibikin mudah, iya nggak ?
Tapi
bukan berarti gw tidak punya sahabat atau orang yang bisa gw kasih kepercayaan
untuk menjadi tempat sampah uneg-uneg gw. Itu pasti ada. Tapi masalahnya,
terkadang gw suka memilah-milah (filter), kira-kira masalah apa yang
pantas gw ceritain buat teman gw itu. Memang gw merasa kalau emotional attachment (apa bahasa Indonesia-nya
yang pantas ?) gw dengan orang lain itu cenderung kurang dibandingkan dengan
orang-orang “normal” lainnya.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar